Spread the love

Foto : Erwin

Jakarta, Media Indonesia Raya – Seni menawarkan medium bagi kita untuk memproses dan memaknai kembali segala pengalaman dan pengamatan kita, termasuk hal-hal yang sulit dibicarakan secara langsung. Misalnya, film layar lebar Habibie & Ainun menjadi salah satu cara bagi mantan Presiden Indonesia BJ. Habibie untuk melepaskan kepergian sang istri tercinta. Contoh lainnya, seniman Jepang Yayoi Kusuma menjadikan karya seni sebagai medium penyaluran gejala halusinasi yang dideritanya.

Menyadari adanya kebutuhan untuk bercerita dan mengekspresikan diri. lnterSastra bersama dengan dengan Koalisi Seni Indonesia hari ini (15/08) menggelar ajang seni HOUSE OF THE UNSILENCED (Rumah Kami yang Tidak Bungkam) di Cemara 6 Galeri-Museum, Menteng, Jakarta Pusat.

Ajang seni ini menampilkan berbagai seniman dan penulis perempuan seperti Dewi Candraningrum (dosen sekaligus pelukis). Molly Crabapple (award-winning artist and writer dari New York) yang karyanya sudah termasuk koleksi permanen di Museum of Modern Art, New York, Ratu Saraswati (art performer dan finalis lndonesia Art Award). Dyanijni Adeline (seniman dan pembuat film) yang sudah mempresentasikan karya di Borlinalc dan Jakarta Biennale, Salima Hakim (dosen dan seniman) yang karyanya pernah diikutkan dalam Jogja Artweeks. Yacko (rapper) yang juga akan meluncurkan single terbarunya di HOUSE OF THE UNSILENCED pada Sabtu, 25 Agustus 2018. Eliza Vitri Handayani (novelis, penggagas dan pengaruh acara House of the Unsilenced), Ika Vantiani (kurator seni House of the Unsilenced), Ningrum Syaukat (penari, personal trainer, stage acting coach), Margaret Agusta (jurnalis, penulis, dan seniman visual). Bisik-bisik Kembang Goyang (kolektif seniman perempuan yang layak diperhatikan) dan masih banyak yang lainnya.

Masing-masing seniman dan penulis di atas bekerja sama dengan para penyintas kekerasan seksual untuk menghasilkan karya-karya baru seputar tema apa artinya angkat bicara dan seperti apa kehidupan penyintas di masyarakat kita.

Kampanye #MeToo yang ramai di dunia internasional mengungkapkan betapa banyak di antara para penyintas, yang mayoritas perempuan, di Indonesia masih sangat kesulitan untuk bercerita. Masyarakat sering memberi stigma dan sanksi yang sangat berat kepada korban kekerasan seksual, dan justru memaklumi tindakan pelaku. Tujuan sosial ajang seni ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai ihwal dan dampak kekerasan seksual, yang disampaikan melalui ekspresi dan kreasi para penyintas.

“Kami membayangkan sebuah ruang yang aman dan dukungan yang kuat bagi mereka yang ingin angkat bicara, tempat di mana kawah-kawah penyintas dapat mengeksplorasi macam-macam kemungkinan untuk bercerita dan mengekspresikan diri,” tutur Eliza Vitri Handayani, penggagas dan pengarah acara HOUSE OF THE UNSILENCED. Itu sebabnya, para seniman dan penulis di House of the Unsilenced menawarkan beragam medium kepada para panyintas: menulis, membuat kolase. merajut, melukis, menggambar, bernyanyi, dan medium lainnya sesuai minat dan bakat masing-masing. Para penyintas dapat berpartisipasi dengan cara mengikuti lokakarya atau berkarya bersama para seniman.

“Apabila tidak ada dukungan di lingkungan tempat tinggal, di ruang ini para penyintas bisa menemukan orang-orang yang mendukung. Apabila mereka merasa berat berbicara secara langsung atau melalui media sosial. di ruang ini mereka bisa belajar medium-medium sastra dan seni yang bisa digunakan,” sambung Eliza Vitri Handayani.

Kami bekerja keras untuk memastikan para penyintas dengan berbagai latar belakang dan kebutuhan merasa aman dan nyaman berpartisipasi. Para penyintas berasal dari Jabodetabek, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Makassar. Usia mereka berkisar dari 19 hingga 53.

Dalam pemberitaan tentang kekerasan seksual, media di Indonesia pun masih mencerminkan budaya patriakis yang kuat, seperti belum berpihak kepada perempuan, memberitakan dengan framing yang menyalahkan korban, atau menggunakan bahasa yang tidak sensitif atau menumpulkan skala kekerasan yang terjadi. Ini sangat disayangkan karena pers memiliki peran penting lewat pemberitaannya untuk mempengaruhi opini dan kebijakan publik, dan memberikan perspektif keadilan sosial dan hak asasi manusia.

“Pemberitaan yang baik dan akurat dapat membantu menjadi katalis untuk perubahan positif yang membantu mengakhiri budaya pemerkosaan. Karena itu, kita butuh mengubah perspektif dan pendekatan patriarkis ini dengan memastikan pers melakukan pemberitaan tentang kekerasan seksual dengan lebih beretika dan berpihak kepada penyintas,” ungkap Devi Asmarani, editor-in-chief dan (co-founder Magdalene, mitra media House of the Unsilenced.

Sebuah karya seni menjadi penting (compelling) ketika ia hadir karena kebutuhan=bisa jadi kebutuhan pribadi, politik, sosial atau gabungan semuanya. HOUSE OF THE UNSILENCED hadir karena para penyintas butuh untuk mengekspresikan diri dan mengeksplorasi kreativitas sebagai bagian dari perjalanan menuju pemulihan dan pemberdayaan. Di Indonesia, khususnya, masih banyak yang perlu digali dan disorot tentang seperti apa hidup sebagai penyintas, apa yang dibutuhkan untuk memecah kebungkaman, mencari keadilan, dan mencapai pemulihan; apa yang dicapai dan dikorbankan ketika angkat bicara; apa artinya mengubah derita menjadi seni, dan masih banyak lagi aspek serta nuansa seputar tema tersebut, yang sudah saatnya untuk disuarakan agar kita bisa menjadi selayaknya manusia.(Erwin)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *