Spread the love

Foto : Erwin

Jakarta, Media Indonesia Raya -Pasangan calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo atau Jokowi – Ma’ruf Amin, dan pasangan calon nomor 02, Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, berjanji akan melangsungkan kampanye damai. Hal tersebut mereka ungkapkan lewat ikrar dalam acara Deklarasi Kampanye Damai Pemilu Serentak 2019 di halaman Tugu Monumen Nasional, Jakarta, Minggu ,
(23/9).

Namun dalam proses kampanye, tentu ada pesan-pesan negatif atau black campaingn (Kampanye Hitam” yang muncul dari kedua belah pihak.

Untuk menanggapi itu EmrusCorner menggelar diskusi publik bertemakan “Waspada Penumpang Gelap Pilpres 2019” di Hotel Grand Alia Prapatan, Jl. Prapatan No. 28, Jakarta Pusat, Senin (24/9).

Hadir para pembicara:
– Zuhairi Misrawi (Politisi PDI Perjuangan)
– Mahfudz Siddiq (Politisi PKS)
– Emrus Sihombing (Pengamat Politik)
– Nuruddin Lazuardi (Pengamat Intelijen)

Sebagai Moderator:
Chamad Hojin (jurnalis)

Zuhairi Miswari yang merupakan Politisi PDI Perjuangan mengatakan bahwa Pilpres 2019 harusnya dipenuhi gagasan atau ide yang positif.

“Kedua konstentan Pilpres 2019 yaitu kubu Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandi harus mengedepankan gagasan atau ide-ide positif bukan ujaran-ujaran kebencian dalam bentuk Black Campaign,” kata Zuhairi.

Bagi Zuhairi yang perlu diwaspadai adalah kampanye hitam yang disengaja dibuat dalam bentuk hate industry berupa ujaran-ujaran kebencian oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab.

“Oknum pembuat dan penyebar ujaran kebencian ini patut diwaspadai karena mereka jelas penumpang gelap yang memanfaatkan situasi dan kondisi yang tidak menentu, pertikaian, konflik atau friksi. Kelompok-kelompok ekstremis belajar dari situasi pertikaian dari Negara Siria. Mereka sekarang lagi melihat dan menunggu kesempatan untuk merebut kekuasaan. Kalau kita tidak menyadari kehadiran para penumpang gelap ini jelas menjadi kerugiaan bagi bangsa ini. Untuk itu dibutuhkan kedewasaan para elit politik agar situasi dan kondisi berbangsa kita tetap stabil. Demokrasi harus kita pertahankankan dalam suasana persahabatan, santun dan kebangsaan. Saat ini demokrasi kita menjadi panutan oleh negara lain seperti Timur Tengah dan Malaysia, jadi harus kita pertahankan bersama-sama,” tutur Zuhairi.

Nuruddin Lazuardi mengatakan bahwa penumpang gelap itu muncul pada situasi politik yang tidak stabil di suatu negara.

“Penumpang gelap selalu menumpang pada isu-isu yang berpotensi menimbulkan konflik. Penumpang gelap itu muncul ketika terjadi polarisasi. Polarisasi yang terjadi di Indonesia bukan hanya muncul pada tahun 2014 saja, tapi jauh-jauh hari sejak zaman Ken Arok, Ken Dedes polarisasi sudah ada. Contoh polarisasi bangsa ini yang tercatat sejarah adalah peristiwa kejatuhan Soekarno, dimana sampai saat ini penyebab kejatuhan Presiden Pertama belum diketahui dengan pasti,” ungkap Lazuardi.

Menurutnya lagi para penumpang gelap tersebut akan memanfaatkan berbagai isu seperti menyebarkan hate speech dan hoaks secara massive untuk menyebabkan ketidakstabilan perpolitikan dan kondisi sosial suatu negara.

“Hate speech dan Hoaks adalah produk yang menjadi mainan para penumpang gelap. Tujuan mereka jelas membuat negara tersebut tidak stabil secara politik sehingga memungkinkan terjadinya pertikaian dan konflik. Untuk itu perlu peranan aparat hukum untuk menangani masalah hate speech dan hoaks ini. Namun dalam penanganan kasus hoaks, hate speech saya masih melihat aparat hukum masih terkesan tebang pilih. Jadi selain ketegasan dari aparat, mereka juga harus bertindak adil dalam menyikapi setiap kasus yang terkait hoaks dan ujaran kebencian,” jelas Lazuardi.

Sedangkan Emrus Sihombing, seorang Pengamat Politik sekaligus Pendiri EmrusCorner menyebutkan bahwa penumpang gelap itu selalu ada dalam dinamika politik di suatu negara.

“Penumpang Gelap adalah yang tidak memiliki kontribusi positif. Penumpang gelap bisa berbentuk orang atau isu. Bisa keduanya, orang dan isu. Penumpang gelap itu bisa juga dalam bentuk ideologi. Contoh perbedaan ideologi negara Korea Selatan-Korea Utara, Yaman Selatan-Yaman Selatan. Penumpang gelap bisa berasal dari luar dalam bentuk kepentingan penguasaan sumber daya alam,” ujar Emrus.

Untuk meminimalisir konflik dan pertikaian di Pilpres, Emrus menyampaikan beberapa saran kepada dua kubu kandidat.

“Pertama adalah para peserta pemilu menawarkan ide, gagasan dan program. Jadi ditawarkan bukan dibenturkan. Swbaiknya pihak paslon menawarkan programnya bukan membenturkan program. Jadi jangan sekali-kali adu program. Yang kedua adalah jika terjadi hoaks atau hate speech yang menimpa salah satu paslon, lawan politiknya harus tampil maju membela. Kedua paslon ini Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandi mengadakan pertemuan secara berkala untuk memperkuat komunikasi antar keduanya. Yang ketiga, dibentuk Dewan Etika Nasional, tugasnya mengawasi dan mwmperingatkan para penyebar hate speech dan hoaks. Keempat, perlu dibentuk tim kritikus yang berisi para ahli. Kelima, perlu menghindari kalimat bersayap, para kandidat diharapkan menyampaikan ide, gagasan dan programnya dengan menggunakan kata-kata yang jelas sehingga bisa ditangkap dan dipahami oleh publik atau masyarakat,” tandas Emrus.(Erwin)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *