Foto : Erwin

Jakarta, Media Indonesia Raya – Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 Nopember, Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI) menggelar Sarasehan dan Deklarasi Pemuda Indonesia Membangun Bangsa di Hotel Cemara, Jakarta Pusat, Sabtu (10/11).

Najih Prastiyo selaku Ketua Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (IMM) yang menjadi salah satu narasumber di acara sarasehan dan deklarasi mengatakan paham radikalisasi masuk ke Indonesia karena ketidakmampuan orang Indonesia itu memahami ideologinya sendiri.

“Ideologi Pancasila belum masuk ke ranah pemahaman masyarakat Indonesia. Padahal masalah perbedaan atau multikultural seharusnya tidak boleh dijadikan perdebatan lagi. Ditambah ada narasi yang memunculkan stigma darurat multikulturalisme di Indonesia. Padahal perbedaan, konflik dan pertikaian di muka bumi ini bukan karena isu agama, suku tapi karena kepentingan politik. Masuknya paham radikal itu dari ruang-ruang politik, dimana agama menjadi alat kepentingan politik,” kata Najib.

Persoalan-persoalan seperti radikalisme, hoaks yang kemudian memunculkan persoalan baru lainnya terjadi akibat rendahnya semangat membaca masyarakat Indonesia. Selain itu menurut Najih semangat Nasionalisme bangsa Indonesia saat ini jatuh ke titik rendah sejak Indonesia Merdeka.

“Salah satu penyebab Indonesia mudah dipengaruhi dan diserang paham radikal dan hoaks karena masyarakat kita kurang cinta membaca buku (literasi). Padahal tokoh-tokoh nasional, bapak pemimpin bangsa kita di zaman pergerakan dan kemerdekaan dulu seperti Slamet Riyadi, Bung Karno dan Bung Hatta itu sangat kuat pada literasinya, karena mereka sangat suka membaca buku dan kolektor buku. Ini yang harus dipahami dan ditiru oleh anak-anak muda sekarang ini. Untuk itu saya memberikan solusi untuk menjawab persoalan tersebut yaitu memunculkan kembali semangat membaca dan memunculkan kembali semangat nasionalisme bangsa ini,” himbau Najih.

Ketua Umum DPP GMNI, Robaytullah Kusuma Jaya menyebut para pemuda harus ikut serta membangun bangsa karena mereka mempunyai tanggung moral melanjutkan perjuangan yang sudah dilakukan para pendahulu mereka.

“Kita harus mampu terjun langsung ke komunitas milenial. Seperti contohnya, kepada youtuber milineal kita harus mampu sinkronkan pemahaman tentang Pancasila. Melalui pemahaman Pancasila, kita harapkan mereka (youtuber) mampu menciptakan konten-konten positif kepada publik atau masyarakat. Generasi muda harus menghadapi prrubahan tatanan ekonomi politik dalam bentuk Revolusi Industri 4.0. Untuk itu saya menghimbau agar para pemuda kita juga disiapkan untuk nemahami wawasan kebangsaan dan wawasan keIndonesian sehingga nantinya mampu berpikir luas dan rasional,” ujar Robi.

Juventus Prima Yoris Kago, Ketua Presidium PP PMKRI mengatakan bahwa bangsa Indonesia harus tumbuh dengan kultur dan budayanya sendiri.

“Biarkan kita tumbuh menjadi satu komunitas masyarakat yang berdasarkan Pancasila,” kata Juventus.

Bonus demografi bangsa ini akan menjadi utopis jika bangsa kita masih terjebak dengan problem identitas.

“Generasi muda tumbuh sebagai generasi yang individual dan apatis akibat derasnya pengaruh budaya dari luar,” lanjut Juventus.

Juventus menyarankan agar generasi muda diarahkan kepada pemikiran dan kegiatan positif. Melalui peringatan Hari Pahlawan menurutnya harus diperingati dengan kerja nyata dan pemikiran nyata terutama untuk memajukan dan membangun bangsa.(Erwin)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!