GeNose C19: Alat Skrining Pelengkap Protokol Kesehatan Masyarakat

Spread the love

Foto: Istimewa

Jakarta, Media Indonesia Raya – GeNose C19 merupakan alat skrining bagi segala aktivitas masyarakat selama pandemi Covid-19. Juru Bicara GeNose C19, dr. M. Saifuddin Hakim, M.Sc., Ph.D., menerangkan, GeNose C19 hadir untuk memastikan bahwa aktivitas dan pergerakan masyarakat tetap berada dalam protokol kesehatan yang ketat.

“GeNose C19 digunakan untuk memastikan bahwa penduduk atau masyarakat yang melakukan aktivitas itu betul-betul melalui skrining yang akurat,” tuturnya dalam acara Konco Kimpling di Jogja TV (28/03). Hakim juga menegaskan bahwa posisi GeNose C19 adalah untuk meningkatkan keamanan saat masyarakat beraktivitas, bukan untuk mempermudah kerumunan maupun mobilitas masyarakat.

Hakim juga menjelaskan bahwa GeNose C19 telah melalui serangkaian pengujian sebagai alat kesehatan selama hampir setengah tahun, mulai dari uji profiling hingga uji diagnostik. Seluruh proses pengujian telah dilalui dengan hasil yang baik, sehingga Kementerian Kesehatan mengeluarkan izin edar untuk GeNose C19 sebagai alat skrining Covid-19 di Indonesia.

“Para pengembang GeNose C19 awalnya menginginkan ada satu alat inovasi untuk bisa mendeteksi Covid-19 dengan akurat, murah, tidak sakit, dan hasilnya cepat,” jelas Hakim. Menurut Hakim, para peneliti menyadari dan merasakan bahwa masyarakat, yang harus beraktivitas selama pandemi, banyak merasa kesakitan karena cara pemeriksaan dengan pengambilan sampel lendir melalui lubang hidung.

Senada, Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, Ir. Singgih Raharjo, SH., M. Ed., mengapresiasi alat skrining GeNose C19 karena proses pengambilan sampel yang tidak sakit dan hasil tes yang cepat, serta sangat terjangkau dari sisi biaya.

Singgih menyadari bahwa imbauan untuk tetap di rumah selama pandemi bertolak belakang dengan kegiatan pariwisata. Pendapatan para pelaku pariwisata dan industri kreatif merosot, bahkan sebagian juga kehilangan mata pencaharian. Dunia pariwisata menyambut baik adanya GeNose C19. “Bukan berarti membenarkan ada kerumunan, tapi paling tidak alat ini membantu para pelaku perjalanan,” kata Singgih.

Hakim menjelaskan, saat ini distribusi GeNose C19 diprioritaskan untuk sektor kesehatan. Kapasitas produksi GeNose C19 di PT. Swayasa Prakarsa ialah tiga ribu unit per bulan dan akan terus ditingkatkan. Selain itu, waktu tunggu sejak pemesanan terkonfirmasi ialah sekitar enam hingga delapan minggu. “Seluruh proses perakitan dilakukan oleh anak perusahaan UGM, PT. Swayasa Prakarsa, yang juga melibatkan kawan-kawan SMK di Yogyakarta,” tutur Hakim.

“GeNose C19 ini seperti mimpi kita semua,” kata Sales Director GM Production Indonesia, Yerry Apreto pada momen bincang-bincang yang sama. Menurutnya, para pelaku industri kreatif dan pariwisata bisa bergerak kembali dengan kehadiran GeNose C19. Hal itu juga diiyakan oleh Co-founder sekaligus CEO Werkudara Group Fadli Fahmi Ali yang juga hadir pada bincang-bincang tersebut. ”GeNose C19 akan menjadi skrining yang lebih efektif untuk mendeteksi masyarakat yang terpaksa melakukan kegiatan dan mobilitas,” tuturnya.(Win)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *