Spread the love

Foto: Istimewa

Jakarta, Media Indonesia Raya – Badan Intelijen Negara (BIN) mengungkapkan ada tiga faktor yang mempengaruhi paham terorisme. Salah satunya karena pemahaman yang salah terutama tentang ilmu agama.

Hal ini disampaikan Deputi VII BIN Wawan H Purwanto dalam diskusi bertajuk ‘Nilai-nilai Ramadhan Sebagai Proteksi Terhadap Radikalisme’ yang diselenggarakan Gerakan Indonesia Optimis (GIO), Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon (PB MDHW) serta Center Of Intellegence and Strategic Studies (CISS) di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (7/4/2022)

“Terorisme setidaknya dipengaruhi oleh tiga faktor. Antara lain, Pemahaman yang salah, keyakinan yang salah dan kemiskinan. Pemahaman yang salah terutama tentang memahami soal-soal ilmu agama. Misalkan salah dalam memaknai makna jihad yang harus dengan perang atau kematian. Padahal berani hidup untuk menyebarkan kebaikan juga sebuah jihad. Dari pemahaman yang salah itu kemudian menjadi keyakinan yang salah,” ujar Wawan.

“Jihad itu bermacam-macam. Islam agama yang rahmatin lil alamin. Pada bulan Ramadhan ini mari menebarkan kasih sayang dan toleransi kepada semua makhluk,” imbuh dia.

Di kesempatan sama, Brigjen Ahmad Nur Wahid selaku Direktur Pencegahan BNPT menyampaikan bahwa terorisme bisa memapar siapa saja, tidak peduli umur, suku, agama, strata sosial dan kecerdasan manusia. Pemahaman yang salah dari oknum beragama bisa menjadi faktor pendorong aksi terorisme atas nama agama.

“Radikalisme adalah cermin dari krisis spiritualitas agama. Di bulan Ramadhan ini peningkatan perbuatan baik, peningkatan spiritualitas dan sikap ihsan bisa mencegah radikalisme dan terorisme,” jelasnya.

Kepala Prodi Kajian Terorisme SKSG Universitas Indonesia Mohammad Syauqillah menyebut usai 2016 aksi-aksi terorisme menurun secara drastis namun radikalisme semakin marak. Radikalisme itu ditandai dengan semakin meningkatnya pemikiran yang radikal, pemikiran yang intoleran dan perilaku intoleran.

Perilaku intoleran semakin meningkat. Hal itu membuktikan bahwa ada perencanaan, ada pendanaan dan aksi-aksi terukur yang dilakukan.”Hal ini harus menjadi deteksi dini dan langkah-langkah pencegahan bagi semua stakeholder pemerintahan,” kata Syauqillah.

Sedangkan Direktur Eksekutif IMCC Roby Sugara menjelaskan bahwa terorisme ada beberapa bentui gerakan atau aksi. Ada radikal terorisme adalah radikal berbasis kekerasan, seperti ISIS, Al qaeda dan Jamaah Islamiyah. “Ada juga radikal tapi tidak melakukan kekerasan, contoh HTI dan ada juga radikal tapi dengan gerakan halus atau kekinian, contoh gerakan hijrah,” paparnya.

Sementara itu, dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Ali Muhtarom memaparkan bahwa gerakan-gerakan radikal atas nama Islam itu malah mendistorsi agama Islam itu sendiri.

Pendekatan agama secara moderat atau metode ilmu tasawuf efektif dilaksanakan karena itu akan memperkaya spiritualitas pemeluk agama. Sehingga pemahaman atas ayat atau dalil-dalil jihad tidak langsung dipahami secara tekstual.

Selain itu, deteksi dini dan pencegahan harus selalu dilaksanakan oleh lembaga-lembaga yang berwenang yakni BNPT, TNI, BIN, Polri dengan mengajak kelompok-kelompok sipil atau masyarakat.

“Pemerintah harus selalu pro aktif mengajak tokoh masyarakat, tokoh agama dan Ormas keagamaan ataupun organisasi lembaga masyarakat untuk melakukan deteksi dini dan pencegahan dari terorisme atau radikalisme,” tukasnya.(Win/Red)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *