Spread the love

Foto : Erwin

Jakarta, Media Indonesia Raya – Seni adalah proses membuat satu karya yang tidak bernilai intrinsik namun memiliki nilai ekstrinsik melalui pendekatan emosional atau estetika. Seni tidak terlepas dari kreatifitas. Sedangkan kreatifitas dalam suatu karya adalah sebuah proses penciptaan yang melibatkan banyak nilai. Hal ini ditunjukkan oleh Pelukis Wayang muda berbakat Massimiliano Maxtrovalerio yang menciptakan karya seni lukisan dengan ketelitian tingkat tinggi yang meliputi sense, artistic, dan heritage. Karya lukisan wayangnya masing -masing memiliki cerita yang menarik untuk dicermati.

Pameran yang bertajuk Indonesian Arts Meet Italian Heritage berlangsung di Italian Cultural Institute, Jl. HOS Cokroaminoto No. 17, dari tanggal 15-31 Agustus 2018 ini menghadirkan puluhan karya kreatif Massimiliano Mastrovalerio yang akrab dipanggil dengan Max atau Maxi itu seperti Petruk and Semar playing cards in Siena, Young Arjuna at via Condotti-piazza di Spagna Roma, Rome in wayang’s heart, Classic Italian wayang family, Wayang couple at lago di Garda having picnic dan lainnya.

“Semua karya lukis bertemakan wayang yang saya pamerkan disini beragam corak dan karakternya. Jadi, sebelum melukis wayang saya harus tahu lebih dulu karakter wayangnya. Tokoh wayang yang akan dilukis tidak bisa langsung dijiplak. Seperti tokoh wayang Krisna tidak boleh dijiplak, tapi pelajari dulu karakternya. Seperti Arjuna yang kemayu seperti wanita, tapi keren, atau Gatot Kaca dan Semar karakternya harus dipahami. Kita harus memahami dan mempelajari dulu karakter-karakter tokoh tersebut sebelum dilukis,” kata Massimiliano Maxtrovalerio kepada Media Indonesia Raya.

Pria yang tidak hanya bisa melukis tapi juga mahir menyanyikan lagu klasik ini, pada pameran lukisannya mengangkat konsep yang mencakup tiga aspek yakni heritage, sense dan artistic. Ketiganya merupakan bagian dari strategi kebudayaan untuk mengangkat seni lukis wayang yang menurutnya perlu dilestarikan.

“Dari kecil saya suka wayang dan sudah melukis tokoh-tokoh pewayangan. Saya dari dulu belajar sendiri, tidak ada orang yang memberikan dukungan. Yang menilai karya saya bagus memang ada ada, bagi saya harus ada penilaian dari orang-orang di sekitar kita. Ada saatnya saya melukis pada saat banyak masalah atau saya lagi stress. Justru pada saat saya stress kemampuan dan ide-ide untuk melukis itu keluar dengan sendirinya termasuk bagaimana saya menumpahkan semua perasaan saya ke lukisan. Ada kerinduan saya untuk Italia karena saya lahir dan besar disana. Saya juga tinggal di Indonesia sudah lama lama jadi saya terpikir membuat sesuatu yang sempurna. Karena itu berasal dari jiwa saya yaitu jiwa Italia-Indonesia. Jadi, jika saya melukis wayang, orang Indonesia akan mengapresiasi sekaligus saya ingin mempromosikan wayang di Italia. Saya menyukai karya-karya pelukis dari Italia seperti Michael Angelo, Leonardo Da Vinchi, Rafaelo. Karena sejak kecil saya belajar seni dan sejarahnya Italia. Lukisan yang saya tampilkan disini cukup banyak namun karena luas ruangannya yang terbatas hanya karya lukisan terbaik saja yang saya pamerkan disini. Makanya saya mengucapkan terimakasih kepada Italian Cultural Institute yang begitu sangat baik hati untuk membuka hati untuk saya bisa masuk. Dan mereka mendukung sekali. Mereka juga ingin Italia dikenal oleh orang Indonesia,” ujar pria yang akrab dipanggil Maxi ini.

Lewat pameran lukisan Wayangnya, Maxi berharap agar Generasi Millenial Indonesia menyukai seni dan budaya.

“Pertama, kalian harus pintar, jangan terlalu fokus kepada budaya negara barat. Kedua, karena kalian disini punya budaya yang bisa dikemas kembali, maka kalian punya kesempatan untuk meniti karir sehingga bisa mendapat perhatian masyarakat dunia. Jangan menghabiskan waktu dengan perangkat gadget, sosial media, selfie, tapi fokuslah kepada seni. Karena dengan seni ini kita bisa dihargai oleh siapapun, sedangkan perangkat gadget hanya sementara bisa diganti sedangkan seni itu selamanya,” kata Maxi.

Kesuksesan Massimiliano Maxtrovalerio di dunia seni tidak terlepas dari dukungan banyak pihak terutama dari keluarga terdekatnya, yaitu ibunya Sri Wardani.

“Saya lihat jiwa senimannya sangat tinggi, itu memang hadiah, anugerah dari Tuhan. Saya selalu berdoa agar Tuhan bisa memberikan dia talenta dan menjadi berkat bagi banyak orang, itu harapan saya. Dia terlahir otodidak, tapi dia sudah punya dasar, tinggal dipoles sedikit dia sudah bagus. Dari kecil dia suka melukis, saya lihat dia diberikan sedikit petunjuk atau guidance dia bisa langsung mewujudkan imajinasinya. Untuk lukisannya dia seorang yang otodidak, dia terus mencari guru untuk memperdalam dan memperhalus goresan tangannya saat melukis. Tapi, memang dia harus banyak belajar. Dari kecil dia suka wayang. Tapi dia bisa mengkombinasikan lukisannya dengan ciri khas italia. Karena dia berdarah Italia. Dari kecil yang paling menonjol adalah melukis selain menyanyi. Cita rasanya tinggi. Dia sangat mengidolakan penyanyi tenor Luciano Pavarotti yang bersuara tinggi. Itulah yang membuat Maxi suka dengan musik klasik karena itu Maxi seleranya tinggi.
Saya ingin dia jadi orang yang baik sekalipun dia mempunyai talenta, talentanya itu harus bisa dinikmati banyak orang. Dengan umur Maxi yang sudah 43 tahun, lukisannya akan dibawa ke Italia. Kita mau tour ke Eropa, terutama ke Italia. Karena itu negara kelahirannya. Dia merasa tidak ada yang peduli dengan wayang. Khan jarang sekali, siapa yang mau melukis wayang ? Tidak ada. Dia punya kepedulian, yang orang lain tidak peduli. Jadi dia ambil itu peluang itu,” ungkap Ibunda Maxi.

Sedangkan Michela Linda Magri, selaku Director of Istituto Italiano Di Cultural Jakarta mengatakan, dengan adanya lukisan karya Max ini menjadi sarana pengenalan budaya Indonesia dan Italia. Selama 15 hari kedepan, Italian Culture Institute akan dibuka untuk masyarakat umum yang ingin menikmati perpaduan kebudayaan kedua negara.

“Kita sangat gembira dengan adanya seniman seperti Max, dimana kita bisa mempromosikan seni dan heritagenya Italia. Anda bisa melihat karya artistiknya Max, dan dari karya lukisannya anda bisa mengetahui budaya Italia di pameran ini. Pameran akan berlangsung selama 15 hari di Italian Culture Institute, Jakarta. Jadi saya berharap para pencinta seni datang dan bertemu disini,” ujarnya.

Menurut Michela perpaduan antara tokoh wayang dengan karakter berciri khas Italia itu suatu hal yang sangat unik, sehingga dia optimis pameran seperti ini bisa digelar di berbagai galeri seni di Italia.

“Seorang seniman berdarah Italia saat ini ada di Jakarta untuk mempromosikan budaya Italia. Tentu saja Maxi adalah orang Italia tetapi juga sekaligus orang Indonesia. Apa yang ditunjukkan oleh Maxi melalui lukisan wayangnya dengan memadukan dengan karakter dari Italia, itu sesuatu yang unik dan langka. Dan saya berharap pameran ini juga bisa digelar di kota Roma dan sehingga orang-orang Italia dapat mengetahui lebih banyak tentang wayang. Orang Italia perlu tahu apa arti dari wayang sekaligus kepribadian para seniman artistik dari negara Anda,” jelasnya.

Bakat tidak sama dengan kecerdasan. Bakat lebih mengacu pada motorik maupun keterampilan yang ditampilkan seseorang. Dengan kata lain, bakat bisa terlihat oleh orang lain. Potensi inilah yang dilihat oleh Olly Direndra Alexander, selaku penggagas sekaligus Managing Partner of Digital Fashion Week Singapura sehingga membuatnya berani untuk menggagas dan mendorong seorang pelukis wayang berbakat seperti Massimiliano Maxtrovalerio untuk menggelar karya-karya terbaiknya di Italian Cultural Institute Jakarta.

“Saya mengenal Maxi ini dari tahun lalu, berawal saya mengetahui bakatnya, karena di apartemennya itu banyak sekali lukisan-lukisan yang dia tidak tahu harus diapakan. Di situ pula sering muncul ide-ide anehnya. Dia orang Italia sekaligus keturunan Jawa, jadi kenapa tidak saya gabungkan saja budaya Jawa dan Italia. Contohnya, seperti Gatotkaca, Srikandi, Arjuna, Borobudur, Venesia dan lain-lain. Bakat seperti ini yang tidak semua orang punya. Maxi adalah pria penuh bakat dan talenta. Dia pandai melukis, dia pandai menyanyi, dan juga dia pandai bermain piano. Bakat seninya sangat kuat sekali. Jadi kita tidak asal membawa figur seniman, selain yang sangat bertalenta. Itulah mengapa saya berani membawa dia ke Italian Cultural Institute, Jakarta yang sebesar ini,” kata Ollie.

Menurutnya, di pameran ini Maxi menampilkan karya lukisan berupa perpaduan budaya Italia dan Indonesia. Gelaran seperti ini akan berlanjut ke negara Eropa seperti Italia, Jerman dan Belanda.

“Dalam pameran ini, Maxi memadukan kebudayaan dua negara yang berbeda sehingga untuk jangka waktu yang cukup lama dia dan timnya akan berangkat ke Italia dan beberapa negara Eropa lainnya seperti Jerman dan Belanda. Negara-negara tersebut sudah berminat untuk menyelenggarakan pameran serupa,” pungkas Ollie.(Erwin)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *