Spread the love

Foto : Erwin

Jakarta, Media Indonesia Raya – Rumah Kiai Ma’ruf Amin, disingkat Rumah KMA menggelar diskusi publik bertemakan Peta Politik Pemilih Pilpres 2019: antara Ideologis & Pragmatis di Rumah KMA, Jl. Dr.  Sahardjo No. 129, Jakarta Selatan, Jumat (28/9).

Hadir para Pembicara seperti Yusuf Qosim (Dosen UNUSIA), Ramdhani (Ikatan Da’i Nusantara), Juneid (Politisi PKB), Dr. Amsar A. Dulmanan (Koordinator Divisi Bagian Kajian Rumah KMA), Sukamto (Pengamat Politik), dan sebagai Moderator yaitu Adriansyah (Co Founder Dialektik.id)

Ramdhani dari Ikatan Da’i Nusantara (IDN), mengatakan fokus mereka saat ini adalah meredam ceramah terkait Khilafah dan ajaran Wahabi di wilayah perkotaan dan BUMN.

“Saat ini kami temukan yang mengisi ceramah di perkotaan bukan diambil dari NU, malah oleh ustadz Wahabi yang pro khilafah. Sedangkan, pengajian ibu-ibu menunggu ceramah dari ustad yang berasal dari NU. Jadi untuk mengatasi masalah ini Rumah KMA harus pro aktif terjun kesana, misalnya pada kegiatan pengajian di perumahan kecil dan cluster. Kami IDN akan ikut membantu, mensosialisasikan pengajian secara santun, toleran, dan humanis,” kata Ramdhani.

Menurut Ramdhani, anak muda millenial juga harus menjadi perhatian, karena mereka saat ini mayoritas melek teknologi terutama menggunakan perangkat gadget

“Jangan lupa fokus juga ke generasi millenial, karena generasi ini 24 jam tidak lepas dari gadget. Dengan software Ovu kita bisa mengetahui semua identitas dan kegiatan setiap orang lewat gadget. Kalau ingin menang di generasi millenial harus punya data, saat ini perang data. Secara ideologis santri pilih KMA, tapi secara pragmatis bisa beda, itu pilihan politik,” papar Ramdhani.

“Saat ini fokus partai politik pendukung pasangan Capres-Cawapres Jokowi-KH. Ma’ruf Amin selain menghadapi Pilpres juga Pemilu Legislatif jadi mereka akan cenderung pragmatis,” ungkap Sukamto yang menjadi pembicara kedua pada acara diskusi.

Selain itu, Sukamto melihat pemilih pemula, yang lahir 90 an keatas, 51% tidak punya afiliasi ke NU maupun Muhammadiyah dan masyarakat pemilih masih fokus kepada Capres yang berasal dari Suku Jawa.

“Dari data yang saya punya, masyarakat dari suku Jawa cenderung akan memilih capres dari suku Jawa. Jokowi dan Prabowo Subianto itu representasi Jawa. Nama mereka kental sekali Jawanya. Sedangkan cawapresnya, KH. Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno, nama keduanya bukan Jawa. Mereka (calon pemilih) melihat gelar sarjana yang disandang Capres-Cawapres itu penting dan memiliki kemampuan dibandingkan yang tidak menyandang gelar sarjana. Selain itu faktor warna pemilih di tingkat RT juga perlu diperhatikan,” himbau Sukamto.

Yusuf Qosim yang berprofesi sebagai Dosen UNUSIA mengungkapkan fakta bahwa persentase golput di Pilpres cukup tinggi dan Caleg Parpol lebih mementingkan kampanye Pileg dibandingkan Pilpres.

“Pemilih yang mengaku NU sekitar 36% dari 185 juta pemilih nasional. Dimana 66 juta pemilih berasal dari kalangan NU. Sedangkan dari 135 juta pemilih kemungkinan yang hadir ke TPS, setelah dipotong golput suara NU adalah 50%.
Pemilih dari NU mayoritas berada di pulau Jawa. Yang berusia 30 tahun yang mengaku NU 18%. Pemilih berusia dibawah 30 tahun  adalah 30%. Pemilih pemula yang memiliki rentang usia 17-22 tahun jumlahnya sekitar 15%. Karakteristik pemilih NU berbeda dengan yang lain yaitu life style umumnya peci dan sarungan. Yang tak kalah penting Caleg cuma memikirkan pemenangan di pileg, sehingga peranan relawan di Pilpres itu sangat penting,” tutur Sukamto.

Bagi Dr. Amsar A. Dulmanan yang merupakan Koordinator Divisi Bagian Kajian Rumah KMA melihat gejala masyarakat untuk golput semakin besar dan pelaksanaan pileg serta pilpres yang berdekatan juga akan menjadi masalah.

“Angka golput di Pilpres 2019 semakin tinggi itu. Selain itu, berdekatannya pelaksanaan pileg dan pilpres akan menjadi masalah yang tidak bisa dihindarkan karena mereka (caleg) dari parpol pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin akan memilih berjibaku untuk agar dirinya terpilih sebagai anggota legislatif. Jadi konsentrasinya tidak pada pemenangan capres dan cawapres. Parpol hanya menjadi sarana untuk memenuhi syarat konstitusi yaitu parliamentary threshold sehingga partai tidak akan bisa bekerja maksimal, untuk pemenangan basis suara dibutuhkan peranan relawan,” ujar Amhar.

“Pemilih terdidik harus didekati dengan pendekatan edukatif. Sedangkan jualan yang paling kongkrit dan rasional sebaiknya berupa program dan ide,” tambah Mansyur.

Politisi PKB, Juneid menunjukkan fakta bahwa dari NU sendiri ada kecenderungan untuk memilih  Capres Prabowo, dan peran relawan juga memiliki keterbatasan. Selain itu kaderisasi di NU sendiri baru berjalan saat menghadapi pilpres.

“NU baru memikirkan kaderisasi pas pilpres saja, dimana perhatian pada kaderisasi di perkotaan saya lihat kurang sekali. Yang perlu dipikirkan adalah pemilih  di wilayah Jabodetabek. Fakta menunjukkan  Rois Syuriah NU Jakarta malah dukung Prabowo Subianto. Untuk pemilih dari millenial harus bisa dirangkul Jokowi, Rumah KMA tidak bisa dipaksakan. Jadi solusinya mereka (KMA) harus bekerja lebih keras lapangan, terjun langsung menemui para konstituen ke RT-RW, karena kubu lawan yaitu Tim Prabowo-Sandi juga akan berkampanye dan ambil suara disana,” pungkas Junaed.(Erwin)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *