Spread the love

Foto : Erwin

Jakarta, Media Indonesia Raya – Kekerasan seksual menjadi tema penting dalam kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16HAKTP) 2018. Menurut Komnas Perempuan, berdasarkan hasil pemantauannya selama 15 (lima belas) tahun dari 1998-2013 ada 15 (lima belas) jenis kekerasan seksual : salah satunya adalah Perkosaan yang dijelaskan sebagai serangan dalam bentuk pemaksaaan hubungan seksual dengan memakai penis ke arah vagina, anus atau mulut korban. Bisa juga menggunakan jari tangan atau benda-benda lainnya. Serangan dilakukan dengan kekerasan, penahanan, tekanan psikologis, penyalahgunaan kekuasaan, atau dengan mengambil kesempatan dari lingkungan yang penuh paksaan. Dan kekerasan seksual mempunyai dampak yang sangat buruk terhadap psikologis korban.

Hal ini menimpa seorang anak berinisial EL asal Palembang, Sumatera Selatan, selama empat tahun menjadi korban pemerkosaan oleh pamannya yang berusia 63 tahun. Korban disebut mengalami trauma psikis. Namun, penanganan kasus ini di kepolisian dinilai lamban karena sudah berbulan-bulan tak ada kemajuan signifikan.

Gita Pragati, aktivis sekaligus pemerhati masalah Perempuan dan Anak yang ikut mendampingi korban, mengatakan saat ini kondisi psikologis EL hancur. Bahkan akibat kejadian tersebut, EL, yang kini berusia 14 tahun, sudah tidak lagi bersekolah.

“Kondisi korban saat ini mengalami trauma akibat kekerasan seksual yang dilakukan pelaku yang notebene pamannya sendiri. Apalagi sebelumnya pelaku memanfaatkan kelemahan korban yang tidak berani melapor karena disertai ancaman dengan benda tajam,” beber Gita kepada Media Indonesia Raya di Rumah Toleransi GP Ansor, Jakarta Pusat, Kamis (13/12).

Mengingat trauma psikologis yang dideritanya, maka keluarga korban ‘EL’ didampingi kuasa hukumnya lanjut Gita, berinisiatif melaporkan kasus tersebut ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Bareskrim Mabes Polri Jakarta dengan Tanda Bukti Lapor: TBL/398/IV/2018/Bareskrim, dan Laporan Nomor Polisi: LP/518/IV/2018/Bareskrim.

“Walaupun sebenarnya wilayah Tempat Kejadian Perkara (TKP) terjadi di Palembang namun berdasarkan rujukan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Sumatera Selatan (Polda Sumsel), korban didampingi keluarga dan kuasa hukumnya melapor ke Bareskrim Mabes Polri, tepatnya tanggal 17 April 2018. Jadi tanggal 9 Juli 2018 oleh pihak Kepolisian sudah memanggil korban untuk menjalani pemeriksaan, sekaligus pemanggilan 2 kakak korban sebagai saksi dalam kasus tersebut,” ujar Gita.

Selanjutnya dibulan yang sama Juli 2018 oleh UPPA Bareskrim Mabes Polri, menurutnya korban dirujuk ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati untuk menjalani visum.

“Semua proses sudah dijalani korban, namun hingga kini belum ada informasi lebih lanjut dari aparat Kepolisian terkait kasus ini. Saya menilai Kepolisian sangat lamban menangani kasus ini terutama yang berhubungan dengan kekerasan seksual. Padahal berdasarkan konstitusi dan aturan perundang-undangan, negara menjamin keadilan, perlindungan, dan kepastian hukum. Namun dalam prakteknya korban ‘EL’ tidak mendapatkan pelayanan hukum yang maksimal dari Aparat Penegak Hukum,” tutur Gita.

Seharusnya berbagai kekerasan seksual yang dialami oleh EL sejak masih berusia 10 tahun menjadi pertimbangan Kepolisian untuk menuntaskan kasus ini.

“Namun sampai sekarang pelaku belum tersentuh dan masih berkeliaran,” tandas Gita.

Sedangkan Susiana Affandy dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut polisi menerima kasus ini setelah ada desakan dari pihaknya. Sebelumnya, kata dia, pihak Polda Sumsel enggan menangani kasus ini karena korban jauh dari tempat kejadian perkara.

“Alasan Polda Sumsel tidak mau menyidik di Jakarta karena mengaku tidak punya anggarannya, tapi setelah ditekan baru mau. Ini yang bikin mual, kenapa harus ditekan dulu baru mau menyidik,” ucap dia.

Susi menyoroti kekerasan terhadap anak perempuan kerap dilakukan oleh orang-orang terdekatnya. Ini sesuai dengan data Catatan Tahunan (Catahu) Komnas Perempuan pada Maret 2018. Bahwa orang-orang terdekatlah yang kerap menjadi pelaku kekerasan terhadap perempuan.

Dalam catatan Komnas Perempuan itu terungkap bahwa pelaku dari orang terdekat itu ialah pacar (1.528 kasus), ayah kandung (425 kasus), dan paman (322 kasus).

 

“Kasus seperti ini yang sering diadukan ke KPAI. Modusnya selalu sama, pelaku yang seharusnya melindungi dan mengayomi tapi malah menghabisi masa depan korban,” pungkas Susi.(Erwin)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *