Foto: Istimewa

Jakarta, Media Indonesia Raya – Memperingati khaul ke-13 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid Sokotunggal Jakarta mengadakan haul kebangsaan dengan tema “Berbagi Bagi Sesama, Mengenang Manaqib Hidupnya” yang bertempat di Jalan Sodong Utara 5 No. 18 Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur, Kamis malam (22/12/2022).

Haul kebangsaan yang digelar oleh Pondok Pesantren (Ponpes) pimpinan KH. Nuril Arifin Husein, MBA yang akrab dikenal sebagai Gus Nuril dihadiri Romo. Pastor Antonius Benny Susetyo, Budayawan Eros Djarot, KH. Wahid Maryanto, Wakapolres Jakarta Timur AKBP Pol Ahmad Fanani, Ketua Patriot Garuda Nusantara (PGN) Gus Iwan, Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Guntur Romli dan undangan lainnya.

Dalam sambutannya KH. Nuril Arifin mengatakan banyak kenangan yang baik dan indah di masa hidupnya Gus Dur yang selalu menjaga dan merawat keberagaman dan kebhinnekaan.

“Beliau (Gus Dur) hidup untuk memikirkan banyak orang yang tidak hanya dari kelompok nya saja melainkan semua suku dan agama di Indonesia,” ujarnya.

Sementara Romo Pastor Antonius Benny Susetyo yang juga menjabat sebagai oleh Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mengatakan, Presiden ke-4 Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur disebut patut menjadi teladan karena perjuangan kemanusiaannya dan totalitasnya menjaga perdamaian dalam beragama.

“Saya berjumpa dengan beliau (Gus Dur) pada tahun 1996, dimana terjadi pembakaran gereja di Situbondo, dan dikenalkan oleh Almarhum Romo Mangun,” kenang Benny.

“Gus Dur selalu menjaga totalitas perdamaian dan berusaha bagaimana konflik agama tidak terjadi dan menyebar luas,” ujarnya.

Dalam ingatannya, Benny menambahkan jika Gus Dur pernah memberikannya contoh tentang hidup tanpa kekerasan dan penuh kedamaian.

Selain itu, lanjut Benny, Gus Dur juga selalu mengedepankan nilai-nilai hak asasi manusia dalam kehidupannya berbangsa dan bernegara.

“Gus Dur terus memperjuangkan Hak Asasi Manusia dan selalu tanpa kekerasan. Saat lengser pun, tidak mau memakai kekerasan,” jelasnya.

“Menurut Gus Dur, kekuasaan yang dimiliki adalah menjadi pelayanan bagi kemanusiaan. Politik pun menjadi politik hati nurani, bukan kekuasaan. Dan kekuasaan untuk pelayanan. Itulah Gus Dur,” ujarnya.

Dalam rangka merawat nilai-nilai yang diajarkan Gus Dur, Benny pun mengajak masyarakat untuk tetap menjaga pluralisme dan kebinekaan serta nilai-nilai pancasila.

Politikus PSI Guntur Romli menyebut Gus Dur sebagai tokoh yang mempersatukan semua masyarakat yang datang dari berbagai kelompok, antar golongan, suku dan agama. Sebut dia Gus Dur dengan tegas mengatakan bahwa Indonesia bukan negara agama.

“Karena Indonesia untuk semua. Walaupun Islam menjadi mayoritas di Indonesia tapi Islam tidak menjadi Islam yang tertutup, eksklusif dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Itulah Gus Dur yang selalu mengedepankan keberagaman dan kebhinnekaan,” ucapnya.

Guntur Romli menegaskan Indonesia tidak akan menjadi Suriah, Irak atau Libya karena ada tokoh yang datang dari ormas terbesar namun tetap merawat kebhinnekaan.

“Tidak hanya untuk satu golongan agama atau suku tertentu tapi untuk semua. Di khaul ini kita dituntut bagaimana menjaga dan meneruskan perjuangan dan cita-cita Gus Dur,” tuturnya.

Kegiatah haul kebangsaan dimeriahkan dengan menyanyikan lagu-lagu mengenang Gus Dur seperti Selamat Jalan Wahai Bapak Bangsa “Desember Bulan Gus Dur” yang dibawakan oleh musisi Iwenk MIC yang juga dikenal sebagai Ikon Prestasi Pancasila.(Win/Red)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!