Foto: Istimewa

Jakarta, Media Indonesia Raya – Kamis (06/04/2023). Fenomena alam di Indonesia kembali terjadi. Adalah Gerhana Matahari Hibrida yang terjadi di tahun 2023, tepatnya tanggal 20 April 2023.

Planetarium dan Observatorium Jakarta dan Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki mengadakan acara konferensi pers, gelar wicara dan tayangan perdana Podcast, yang diadakan di teater kecil, Gedung Teater Taman Ismail Marzuki, pukul 14.00 WIB hingga selesai.

Pengamatan dan Penyiaran langsung Gerhana Matahari total dan parsial akan diadakan di Plaza Teater Besar TIM, Biak Numfor Papua dan di Pantai Anyer, Jawa Barat, 20 April 2023.

Narasumber dalam acara konferensi pers antara lain Kepala Observatorium Bosscha ITB Premana W Premadi, Ph.D dan Kepala Pusat Riset Antariksa BRIN Dr. Emanuel Sungging Mumpuni, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Iwan Henry Wardhana, Kepala UP PKJ TIM Verony Sembiring dan Kasubag TU PKJ TIM Eko Wahyu Wibowo.

Premana W Premadi mengatakan fenomena Gerhana Matahari Hibrida bisa menjadi bahan pelajaran dan penelitian bagi para astrologi.

“Kita juga akan terus memberikan informasi mengenai Gerhana Matahari kepada masyarakat. Ada beberapa tempat di Indonesia yang menjadi tempat penelitian Gerhana Matahari,” ujarnya.

Sementara Iwan Henry mengatakan dengan adanya fenomena alam ini bisa menjadi informasi bagi masyarakat.

“Dan juga Planetorium ini bisa menjadi tempat penelitian dan observasi para peneliti astronomi,” tuturnya.

Sedangkan Kepala UP PKJ TIM Verony Sembiring mengatakan dari Dinas Pariwisata DKI Jakarta selain Planetorium juga menyiapkan beberapa tempat sebagai spot wisata saat Gerhana Matahari Hibrida.

“Bahkan diluar kota Jakarta seperti di kepulauan seribu, Anyer serta kepulauan lain diluar provinsi DKI Jakarta, ” pungkas nya.

Beberapa point mengenai Fenomena Gerhana Matahari:

1. Gerhana Matahari terjadi ketika Bulan melintas di antara Matahari dan Bumi sehingga cahaya Matahari terhalang sebagian atau seluruhnya oleh piringan Bulan. Terdapat beberapa jenis Gerhana Matahari: (1)Gerhana Matahari Total, (2)Gerhana Matahari Cincin, (3)Gerhana Matahari Parsial, dan (4)Gerhana Matahari Hibrida.

2. Gerhana Matahari Hibrida terjadi ketika dalam satu waktu fenomena gerhana ada daerah yang mengalami Gerhana Matahari Total dan ada pula yang mengalami Gerhana Matahari Cincin (tergantung dari lokasi pengamat). Kejadian tersebut disebabkan oleh kelengkungan Bumi.

3. Terjadinya gerhana disertai pula oleh peristiwa pasang surut laut maksimum akibat letak Matahari, Bulan, dan Bumi yang praktis segaris. Selain itu perilaku makhluk hidup yang berubah, seperti hewan malam (nokturnal) pun terpengaruh atau berlaku sebaliknya, makhluk siang seketika bersembunyi takkala siang cerah mendadak gelap seperti malam.

4. Dalam pengamatan, jangan sekali-kali melihat secara kasat mata ke arah Matahari ataupun fenomena yang menyertainya seperti Gerhana Matahari. Apalagi jika menggunakan peranti optis seperti binokuler
atau teleskop harus disertai dengan filter khusus matahari (solar filter). Pengamatan tanpa filter matahari dapat membuat gangguan kesehatan mata secara serius, bahkan pada taraf tertentu dapat menyebabkan kebutaan.

5. Alternatif pengamatan gerhana selain menggunakan filter matahari dapat juga melalui metode proyeksi lubang jarum (pin hole).(Win/Red)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!